Ini bukan jalan-jalan atau pelesiran. Ini perjalanan hidup seorang buruh pabrik tamatan SMA. Ditulis setelah bertemu dengan seekor kecoa.
***
Bayangkan sebuah keranjang. Keranjang sampah berbahan plastik. Di permukaannya yang melingkar, seekor kecoak terus berjalan. Mengelilingi bibir keranjang sampah itu. Bolak-balik. Tak ada habisnya. Andai kecoak tahu, ia bisa keluar dari lingkaran sampah itu dengan turun pelan-pelan. Atau pilihan lainnya: lompat!
Untung kita bukan kecoak. Tuhan anugerahkan akal dan pikiran. Hingga kita bisa keluar dari dunia sempit yang mengungkung ataupun zona nyaman yang melenakan. Sayang, aku belum menyadari hal itu sepenuhnya. Aku yang belum memaksimalkan karunia-Nya. Hanya skenario Allah serta keberuntungan, yang membawaku keluar dari dunia sempit itu.
Maaf, bukan menafikan pekerja pabrik atau pekerja lain. Tapi rutinitas yang itu-itu saja, saya yakin memenjarakan kreativitas, mengerdilkan diri sendiri. Bahkan, bermimpi pun tak berani. Saya berterima kasih pada keterbatasan kontrak kerja, pemimpin line, supervisor dll di beberapa pabrik yang pernah saya singgahi. Karena mereka, saya bisa lepas dan memasuki dunia yang lebih saya sukai. Setelah sempat 6 bulan jadi operator mesin pemotong kantong plastik, beberapa bulan jadi sales snack, setengah tahun memburuh di pabrik mie instan dan satu semester pula kerja di pabrik remote — menyolder ekstal2 berkaki dua, nasib mengantarku memasuki dunia media massa. Alhamdulillah, salah satu cita-cita terwujud; kartunis. Memang belum maksimal. Mesti diasah lagi (thanks tuk Pak Mimi, Cak Manan dkk). Tapi setidaknya, aku jadi nyemplung di dunia yang selama ini, sadar atau tidak, membuatku nyaman dan sangat kunikmati. Sastra, buku dan tulis menulis. Lagi-lagi, belum maksimal. Rutinitas jadi wartawan (setelah kartun, ilustrasi dan urusan scan n olah foto, kembali nasib membawaku ke dunia yang lebih luas; jusnalistik) tak terlampau kunikmati. Kerap kali aku malu dan tak nyaman disebut wartawan. Aku menghindari berita2 kasus dan politik. Aku lebih suka komunitas seni dan budaya, juga kuliner. Apapun, terima kasih untuk Mbak Penny yg telah banyak menuntun, Pak Ikhsan, Bang Tw, Bang Odie, Mas Agung, BF dkk yang sudah mengajari menulis. Thanks untuk Mas Wowok, Mas Iwan, Aris, Mas Humam, Mas Trip … semua senior yang meramaikan dan mengenalkanku pada sastra. Tak terkecuali guru Bahasa Indonesia zaman SMA; Bu Acih dan Pak Parmo. Dan tentu saja guru kelas 1 SD; Bu Lin yang mengenalkan aksara.
Dua tahun di lapangan (hanya seputaran Tangerang) dari bidang seni-budaya, pendidikan dan bisnis, aku jadi redaktur. Sungguh aku bukan redaktur yang baik. Mohon maaf banget, teman-teman reporter yang pernah ku-redaktur-i … Maaf karena aku tak membimbing kalian, tak menjadi contoh yang baik …
Tujuh tahun lima bulan di Satelit News/Radar Tangerang … ternyata bosan juga. Pertengahan 2009 hijrahlah aku ke media remaja islami, Annida. Yang ternyata, pas aku masuk beralih menjadi media online, bukan majalah lagi. Tak lama di Utan Kayu, aku pindah lagi. Sampai sekarang, 2 tahun lebih sebulan di Sindo. Bukan reporter, bukan redaktur bukan pula ilustrator, tapi copywriter. Memang lebih nyaman, berangkat kerja tanpa mikir mau liputan ke mana atau nulis apa, tergantung order saja. Tapi ya itu, tak berkembang dan betul-betul berada di zona nyaman. Seperti tidur begitu lelapnya. Nyenyak tanpa idealisme!
Apapun (lagi) syukuri. Kembali aku punya banyak waktu yang semestinya dipakai untuk mengasah gerjaji. Aku yang kelamaan ‘mati’. Hendak mulai lagi menulis … cerpen. Juga mulai belajar menulis skenario, insyaAllah. Semoga Allah izinkan semua berjalan lancar, semoga aku bisa istiqomah.
Keranjang sampah, dunia sempit. Masih banyak teman dan saudara2ku terkurung di sana. Aku ingin mengajak mereka keluar, beranjak melihat jagad raya. Tapi, aku sendiri belum menuai keberhasilan yang bisa dicontohkan.
Bismillah, Allah antarkan aku memetik sukses dan keberkahan. Supaya sahabat dan ponakan-ponakan yang kusayangi juga terpantik semangatnya, semangat terbang mengarungi cakrawala.
Kebon Sirih, 6 Januari 2012.