Perjalanan

Ini bukan jalan-jalan atau pelesiran. Ini perjalanan hidup seorang buruh pabrik tamatan SMA. Ditulis setelah bertemu dengan seekor kecoa.

***

Bayangkan sebuah keranjang. Keranjang sampah berbahan plastik. Di permukaannya yang melingkar, seekor kecoak terus berjalan. Mengelilingi bibir keranjang sampah itu. Bolak-balik. Tak ada habisnya. Andai kecoak tahu, ia bisa keluar dari lingkaran sampah itu dengan turun pelan-pelan. Atau pilihan lainnya: lompat!

Untung kita bukan kecoak. Tuhan anugerahkan akal dan pikiran. Hingga kita bisa keluar dari dunia sempit yang mengungkung ataupun zona nyaman yang melenakan. Sayang, aku belum menyadari hal itu sepenuhnya. Aku yang belum memaksimalkan karunia-Nya. Hanya skenario Allah serta keberuntungan, yang membawaku keluar dari dunia sempit itu.

Maaf, bukan menafikan pekerja pabrik atau pekerja lain. Tapi rutinitas yang itu-itu saja, saya yakin memenjarakan kreativitas, mengerdilkan diri sendiri. Bahkan, bermimpi pun tak berani. Saya berterima kasih pada keterbatasan kontrak kerja, pemimpin line, supervisor dll di beberapa pabrik yang pernah saya singgahi. Karena mereka, saya bisa lepas dan memasuki dunia yang lebih saya sukai. Setelah sempat 6 bulan jadi operator mesin pemotong kantong plastik, beberapa bulan jadi sales snack, setengah tahun memburuh di pabrik mie instan dan satu semester pula kerja di pabrik remote — menyolder ekstal2 berkaki dua, nasib mengantarku memasuki dunia media massa. Alhamdulillah, salah satu cita-cita terwujud; kartunis. Memang belum maksimal. Mesti diasah lagi (thanks tuk Pak Mimi, Cak Manan dkk). Tapi setidaknya, aku jadi nyemplung di dunia yang selama ini, sadar atau tidak, membuatku nyaman dan sangat kunikmati. Sastra, buku dan tulis menulis. Lagi-lagi, belum maksimal. Rutinitas jadi wartawan (setelah kartun, ilustrasi dan urusan scan n olah foto, kembali nasib membawaku ke dunia yang lebih luas; jusnalistik) tak terlampau kunikmati. Kerap kali aku malu dan tak nyaman disebut wartawan. Aku menghindari berita2 kasus dan politik. Aku lebih suka komunitas seni dan budaya, juga kuliner. Apapun, terima kasih untuk Mbak Penny yg telah banyak menuntun, Pak Ikhsan, Bang Tw, Bang Odie, Mas Agung, BF dkk yang sudah mengajari menulis. Thanks untuk Mas Wowok, Mas Iwan, Aris, Mas Humam, Mas Trip … semua senior yang meramaikan dan mengenalkanku pada sastra. Tak terkecuali guru Bahasa Indonesia zaman SMA; Bu Acih dan Pak Parmo. Dan tentu saja guru kelas 1 SD;  Bu Lin yang mengenalkan aksara.

Dua tahun di lapangan (hanya seputaran Tangerang)  dari bidang seni-budaya, pendidikan dan bisnis, aku jadi redaktur. Sungguh aku bukan redaktur yang baik. Mohon maaf banget, teman-teman reporter yang pernah ku-redaktur-i … Maaf karena aku tak membimbing kalian, tak menjadi contoh yang baik …

Tujuh tahun lima bulan di Satelit News/Radar Tangerang … ternyata bosan juga. Pertengahan 2009 hijrahlah aku ke media remaja islami, Annida. Yang ternyata, pas aku masuk beralih menjadi media online, bukan majalah lagi. Tak lama di Utan Kayu, aku pindah lagi. Sampai sekarang, 2 tahun lebih sebulan di Sindo. Bukan reporter, bukan redaktur bukan pula ilustrator, tapi copywriter. Memang lebih nyaman, berangkat kerja tanpa mikir mau liputan ke mana atau nulis apa, tergantung order saja. Tapi ya itu, tak berkembang dan betul-betul berada di zona nyaman. Seperti tidur begitu lelapnya. Nyenyak tanpa idealisme!

Apapun (lagi) syukuri. Kembali aku punya banyak waktu yang semestinya dipakai untuk mengasah gerjaji. Aku yang kelamaan ‘mati’. Hendak mulai lagi menulis … cerpen. Juga mulai belajar menulis skenario, insyaAllah. Semoga Allah izinkan semua berjalan lancar, semoga aku bisa istiqomah.

Keranjang sampah, dunia sempit. Masih banyak teman dan saudara2ku terkurung di sana. Aku ingin mengajak mereka keluar, beranjak melihat jagad raya. Tapi, aku sendiri belum menuai keberhasilan yang bisa dicontohkan.

Bismillah, Allah antarkan aku memetik sukses dan keberkahan. Supaya sahabat dan ponakan-ponakan yang kusayangi juga terpantik semangatnya, semangat terbang mengarungi cakrawala.

Kebon Sirih, 6 Januari 2012.

Mimpi

Berlatar ruang tamu rumah zaman dulu … aku menerima pemberian Bapak, berupa sebutir telur busuk. Telur yang terbuka setengah, yang lantas menetas di dua telapak tanganku, menjelma seekor ayam kecil. Yang kupikirkan saat itu hanya: “Jangan sampai anak ayam ini mengira akulah induknya.”

Sesaat sebelum adegan itu, aku membuka-buka lemari mencari kardus … suasananya seolah-olah aku sedang bersiap untuk kembali ke Jakarta. Di dalam lemari, ada beberapa kardus lawas … berisi telur-telur busuk simpanan Simbok — panggilan ibu di keluargaku yang sangat sederhana. Kenapa Simbok menyimpannya? Beberapa pecah dan sangat tidak indah. Lantas, lima ekor anak ayam menetas!

Ah … itu mimpi Ahad, malam Senin (25/4/2011) … Di tidur lanjutan setelah shalat Subuh … aku memimpikan sesosok istimewa. Di belakang kursi kerjaku, dia hadir. Dia yang telah lama kubenamkan di makam masa lalu. Tanpa kata, cuma cengar-cengir. Tapi, masih dalam mimpi itu, teman2 kantor yg bercampur antara teman Sindo dan Satelit ramai berdehem-dehem dan suit-suit. Oh mimpi … ada-ada saja.

Jika Rindu itu Batu

Jika rindu serupa batu

maka pikiranku yang tak mampu mengeja maumu

adalah palu yang terus menghancurkan rasa aneh itu

Ragu dan resah yang sempat singgah

kini tlah temukan pusaranya

terang sudah

dan tak kuharap indah pelangi seusai hujan badai

Cukup bagiku kembali menikmati langit biru

dengan awan-awan putih yang menggumpal bagai domba-domba

biar, kicau burung serta gemericik air yang memenuhi hati ini

 

** kebun sirih — kala aku (merasa) mampu bermain dengan rasa dan logika

11 maret 2011

wahai diri,  senyumlah :)

Terbang dan Mengarungi Citarik

Terbang dan Mengarungi Citarik

SERU! Satu kata ini cukup untuk mewakili cerita panjang perjalanan kami (tim copywriter, desain, admin n HRD – 37 orang) selama dua hari ke Caldera. Lembah yang tenang, sejuk di tepian Sungai Citarik, Kampung Lebak Wangi, Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Main2 heboh dipandu awak Caldera – Mas Katro’ dan Mas Ihsan, “terbang” menyeberangi Citarik, melingkari api unggun di malam hari, esoknya menyusuri hutan karet, naik turun bukit, lalu … wow, mendayung, arung jeram selama dua jam! Ckckck. Kata seorang kawan (sambil menyeruput air kelapa muda di garis finish) “Cukuplah bagiku jika surga serupa Caldera.” Hehehe ….

Yeah, hari pertama Sabtu (12/2/2011) setelah menempuh perjalanan Jakarta – Sukabumi nyaris enam jam (plus macet n plus2 lainnya) … kami berkesempatan menikmati syahdunya suasana di Caldera. Gemuruh arus air di bebatuan terdengar, menjadi simphoni yang serasi dengan hijaunya rerumputan, nyiur-nyiur, batu-batu, jembatan gantung, saung serta pondok-pondok bertiang glugu. Semua natural dan serba terawat.

Kendati melenceng jauh dari jam kedatangan … toh kami enjoy juga. Sore hari sekitar jam 15.30 alhamdulillah kami disambut ramah kru Caldera, disambung makan ’siang’ di saung serupa panggung menghadap ke aliran Citarik … Setelah melepas penat sejenak dan ganti baju dgn kaos seragam, kami ngumpul di lapangan rumput itu. Kukira bakal langsung flying fox … ternyata ice breaking n games untuk kekompakan tetap jalan. Melingkar, menantang, kocak. Tapi ya itu … menggabungkan antara laki2 dan perempuan … Selebihnya oke sih, membangun kekompakan …

Tentang flying fox. Selama ini cuma ndomblong ngelihatin orang. Akhirnya kesampaian juga. Auooo … Teman2 histeris teriak2. Kalau aku, perasaan teriak juga deh tp pelan (mungkin dalam hati kali) … hehe. ”Ih Mbak Esthi jaim …” kata Ea. ”Kamu kok diem aja sih? Orang2 segitu hebohnya …” ini Mbak Atiek. Lain kali, ajari aku ekspresif yaa Ea n Mbak Atiek … ^^

Gimana rasanya terbang? Asyik! Yang tadinya deg-degan begitu pengait dipasangkan, terus ”jlug” badan ”jatuh” dari panggung kayu itu … Lantas … enaknya meluncuuuurrrr … cepat sekali … menatap sungai di bawah sana … sungguh terlampau singkat, tahu2 sudah nyampai seberang … pengen lagi!

Flying fox sudah. Gamesnya nggak usah cerita, langsung ke rafting aja ya. Hari ke-2, Minggu (13/2/2011) pagi seusai pemanasan dikit, kami diangkut dengan 3 mobil bak ke tepi hutan karet. Lalu berjalan kaki kurang lebih 1,5 jam … naik turun, licin … Mbak Vika (atau Fika?) sempat tergelincir … menembus semak dan ilalang … berujung di perkampungan (nah, lupa nggak perhatiin apa namanya, padahal kami ngumpul di sebuah SD) … menyimak arahan Mas Ihsan apa yg boleh dan tak boleh dilakukan selama arung jeram (lucu … lucuuu …) … jalan lagi 200 meter ke garis start di (mungkin) hulu Citarik.

Sekitar 9 kilometer jarak tempuh kami, memakan waktu kira2 dua jam. Pas siang hari bolong! Karena debit air yang rendah (kata Mas Poank – pemanduku – 55 padahal bagusnya sekitar 70-80) perahu karet yang mestinya bisa ditumpangi 4 orang (plus 1 pemandu) hanya diisi 3 orang. So, kami yang tadinya sudah berencana 1 tim copywriter semua (Mas Syarif, Aris, Mbak Atiek n aku — biar enak ngambil fotonya di tukang potret) … berubah formasi. Mbak Atiek sama Aris n Syamsul (desain) … sementara aku sama Mas Syarif n Agus OB. Yo wis, lanjut … Perahuku berangkat pertama. Yes! Sok PD dong (padahal gak bisa renang, hihi) …

Kecilnya debit air, berarti juga lebih kecilnya risiko/tingkat bahaya. Air dan cuaca relatif bersahabat. Serunya kalau pas melewati jeram. Tuiiing … naik terus langsung turun. Kadang2 perahu berputar. Atau oleng. Dayung majuuu … dayung munduuur … ”Pindah kanan!” ”Kembali!!” Ini instruksi Mas Poank yang repot sekali kulakukan … Duduk sendiri di deret tengah, stay di pinggir kiri, trus ’bangku’nya kempes pula menyulitkanku untuk beralih … Beberapa kali aku jatuh ke dalam perahu deh. Tapi gak papa, sakit n pegal2nya baru kerasa sekarang euy … Kesukaran lainnya ialah ceteknya kali sehingga perahu kami kerap nyangkut di antara batu. Upsss … Pemandunya jadi bersusahpayah menarik-narik perahu kami …

Inilah rafting bermandi cahaya matahari pertamaku. Pengalaman pertama melihat yang namanya biawak. Juga, pengalaman pertama nyemplung kali setelah zaman kanak2 doeloe (niatnya murni mau pipis, wkwkwkwk) ternyata dalam bow … aduh panik juga, meski sudah pakai pelampung. Next, rencana belajar renang kudu direalisasikan!!!

Kendati menikmati arung jeram, goncangan di perahu + sengatan matahari toh membuatku pening juga. Apalagi perahu terbolak-bolik depan belakang … mutar-mutar kanan kiri … tahan est. Leganya begitu sampai di finish. Oh … Caldera yang ini tak kalah apiknya dari tempat kami menginap. Cuma 1 saung untuk minum kelapa sih … tapi ’view’nya kereeennn banget …

Pulangnya, diangkut lagi pakai los bak. Naik turun, berkelok. Wah, baru deh berasa mual mau muntah. Hoeeekk … cuma sekali kok, heheheh … maaf … ^^

Sesampainya di penginapan lagi … antre mandi … makan siang kesorean lagi … Lapar, lelah, makanan jadi terasa lebih nikmat. Habis itu, ”pelepasan” oleh Mas Katro’, Mas Ihsan n Mbak Nita … salam2an sama mbak2 yang melayani makan … foto2 lagi. Pulaaanggg … maceeeettt … nyampai2 di area kantor jam 22.29 … ngobrol sebentar, sampai kost-an. Ngantuk!

Lho … yang diceritain main2nya doang yak. Mana raker ”Multiplication and Improvement Year 2011”? Weeeekkksss … sudah ditulis kok di kertas!
Ohhh semoga akan ada lagi petualangan semacam ini … syukur2 lebih … ^__^
Buat yang nggak ikutan (Mas Mamoo, Mbak Farida, Mas Ponco, Mas Bay n Miftah) … ini oleh2nya …

Bahagia

 

 

Di mana letak kebahagiaanmu? Begitu kalimat pertama pada surat elektronik dari Anne Ahira, kemarin. Mestinya, di sini dan sekarang ini. Tapi betulkah? Sering kali aku ngarang, aku bakal bahagia nanti kalau gajiku sudah cukup, atau kalau aku sudah bisa membantu orang tua dan kakak-kakakku sepenuhnya. Atau nanti kalau aku sudah menikah. Hohohooo …

 

Bahagia itu di hati. Bahagia itu bila bisa membahagiakan orang lain. Senyum tulus ke tetangga yang kita lewati, menanggapi obrolan Ibu Kost … atau membantu keponakan ngerjain PR, mungkin juga membantu teman yang memerlukan, mendengarkan keluh serta mencoba men-support … InsyaAllah, insyaAllah itu juga berujung kebahagiaan.

 

Mengenai tetangga … aku senang sekaligus bertanya-tanya tentang seorang nenek yang begitu ramahnya. Aku nggak tau siapa namanya … Rumahnya berjarak tiga rumah dari tempat kostku. Kami satu gang. Setiap kali aku lewat depan rumahnya, entah berangkat/pulang kantor, jalan untuk beli nasi di warteg … bila kebetulan ibu itu sedang di teras rumahnya, senyumnya pasti merekah lebar. Sangat ramah. Pernah aku jadi salting sewaktu dia meraih tanganku dan mengguncang-guncangnya. Menyentuh lenganku sambil tanya ”Sehat Neng? Baru mau berangkat? Bawa payung nggak?” Oh Tuhan … Aku bingung, mau salaman kok setiap hari sudah ketemu. Hm, mungkin aku mirip dengan salah seorang kerabatnya kali yaa … Semoga si ibu yang senantiasa mengenakan daster batik, dengan rambutnya mulai memutih serta gigi yang tanggal itu sehat-sehat dan dalam lindungan Allah, amin. Aku bahagia tinggal di Kebun Sirih J

 

Bahagia itu berbagi. Mengangsurkan secangkir kopi. Membelah sepotong roti. Atau sekadar memberikan recehan kepada pengamen dan peminta-minta.

 

Bahagia … Bahagia membuncah dalam kebersamaan. Makan bareng-bareng Ira dan Meri, teman kost, tentu jauh lebih lahap ketimbang sendirian. Mendengar celotehan, canda dan tawa Oliv dkk yang membahana … Begitu pula makan ramai-ramai di ”kelas” … ada Mbak Atiek, Ea, Mas Mamo, Mbak Farida dan duo bajindul (hehe) yg seru: Mas Syarif n Aris. Atau sekadar ngobrol dan nonton TV bareng di kamar Ira … Atau kala jalan-jalan (niatnya sih lari-lari) pagi … ke Monas bareng Novi n Aini, ke Taman Suropati seperti yang kulakukan Minggu (6/2/2011) lalu berempat aku, Ira, Yunita, Kiki. Bahagia, menghirup kesegaran sepanjang jalan di Menteng. Seolah-olah berada di Bogor saking rindangnya … Bahagia melihat air mancur dan burung-burung merpati di taman yang terawat itu. Bahagia ketika Ira menemukan selembar uang Rp50 ribu di air mancur bundaran Jalan Teuku Umar. Bahagia ketika memburu mas-mas tukang kopi, insiden foto pagar lantas lengking peluit petugas security yang bernama ”Yakub G. Djiung” hahaha …

 

Dan bahagia baru yang selama ini belum pernah terengkuh … ialah … ketika ia datang. Tiba-tiba, tak disangka. Terima kasih kau ulurkan niat baik. Thanks telah membiaskan rona seri di wajahku yang selama ini tersaput mendung. Memang, bahagia itu mesti dibayar mahal pula dengan kekhawatiran, harap-harap cemas dan berjuta pertanyaan yang belum terjawab. Aku tunggu, aku tunggu hingga kau siap melengkapi semua titik di belakang tanda tanya itu.

 

Apalagi? … aku bahagia! Aku bahagia masih terhubung dengan kalian semua, sahabat-sahabatku ^^ Aku bahagia dalam penjagaan-Mu ya Rabb J

 

Jakarta, 8 Feb 2011.

ASA

YA, harapan itu masih ada. Selalu ada. Gusti Allah yang rahman dan rahim punya skenario terbaik. Kita manusia sekadar menjalaninya. Tentu dengan niat baik, berusaha untuk lebih baik dan mencapai tujuan hidup; ridho serta surga-Nya. InsyaAllah, amin.

Mau ngomongin apa sih, terkesan muter2. Yo memang muter2, jebul ketemu di satu titik. Start. Berharap menjadi berkah. Berserah, bagaimana ending-nya yo terserah Allah :)

Mungkin pada awalnya bercampur sedikit euforia. Tentang rasa. Tentang seseorang yang tak terduga. Subhanallah … ya Allah, minta petunjukMu pliss … genggam hati ini agar tak lari ke mana-mana, kuatkan jiwa ini biar tak terbujuk setan …

Hm … cuma berharap kesungguhannya. Memohon ketentuan terbaik … menurut ilmu dan ketetapanMu … bila itu baik bagiku, agamaku serta kehidupanku dunia dan akhirat kelak … tolong takdirkan … mudahkan dan lancarkan ya Rabb … namun bila tidak, please tunjukkan yang terbaik dan jadikan aku ikhlas menerimanya … amin ya rabbal ‘alamin … :)

… KONFLIK

KARENA HIDUP BANYAK “RASA” (iklan kopi) … maka nikmatilah …

Heran … kenapa akhir2 ini semakin banyak orang yg mudah tersulut emosi, terjadi konflik, salah paham berkepanjangan … apakah cuaca yg ekstrem berpengaruh? hati yang kering kerontang? pemukiman dan jalanan yang kian padat? kantong2 yang nyaris sekarat?

Ponakan2ku yang kusayang pun terlibat konflik … pemercik yg sebenarnya hanyalah ketidaksengajaan, salah paham … namun tak lekas diurai, tak kunjung dikomunikasikan. hati2 terbakar, mendendam … kata2 makin kasar, menyeret2 hal lain, saling ungkit kesalahan … ampun.

Sudah seminggu berlalu. upaya tabayyun (seperti yg dicontohkan mantan boss ku Bang Iyus Yth.) … boro2 … selangkah demi selangkah … kesandung kerasnya hati dan tabiat mereka.

mungkin upayaku kurang kuat. ah, tapi cukuplah ketimbang ikut2an esmosi. cukuplah dgn memohonkan kepada Allah, kelapangan hati mereka, kebaikan untuk semua.

mencari tahu doa rabithah (blas lali je) … ketemu nih.

YA ALLAH, ENGKAU MENGETAHUI BAHWA HATI2 TELAH BERHIMPUN DALAM CINTA PADAMU, TELAH BERJUMPA DALAM TAA PADAMU, TELAH BERPADU DALAM MEMBELA SYARIATMU, KUKUHKANLAH YA ALLAH IKATANNYA … KEKALKANLAH CINTANYA. TUNJUKILAH JALAN-JALANNYA. PENUHILAH HATI2 INI DENGAN NUR CAHAYAMU YANG TIADA PERNAH PUDAR.

LAPANGKANLAH DADA2 KAMI DGN LIMPAHAN KEIMANAN KEPADAMU DAN KEINDAHAN BERTAWAKAL KEPADAMU. NYALAKANLAH HATI KAMI DENGAN BERMA’RIFAT PADAMU. MATIKANLAH KAMI DALAM SYAHID DI JALANMU. SESUNGGUHNYA ENGKAU SEBAIK2 PELINDUNG DAN SEBAIK2 PENOLONG. YA ALLAH, AMIN.

 

Mencatat daftar karunia hari ini … ^__^

… bersyukurlah. buat daftar karunia2 yang kita rasakan hari ini … maka kemarahan akan menguap … insyaAllah …

1. bangun tidur masih bernafas :)

2. sarapan nikmat dan murah, pake sayur kacang panjang + jagung muda, telur asin dan sebuah pisang, cuma Rp7 ribu …

3. dua kali BAB nggak wajar, hmm ini alarm supaya lebih menjaga makanan/minuman kita kannn …

4. dapat kacang mede dan ditawari untuk nimbrung makan siang o/ mas syarif, lumayan gratis nasi, balado rebon dan tahu goreng … (sst, jgn banyak2 ntar yg punya kurang heheh)

5. banyak waktu luang, bisa browsing2 tentang DIATERMI untuk Mbak Penny

6. bisa rampungin tulisan BRAND’s saripati ayam pesenan mas mamo

7. SMS-an sama mbak pen dan mbak atiek (lucuuu)

8. nikmatnya kopi susu ^^

9. masih ada uang nih di kantong, hehe

10. bebas ngenet tanpa hambatan

11. gak batuk lagi, alhamdulillaaaahhh

12. masih punya buku bacaan

13. masih punya HP dan pulsa

14. dikit lagi gajiaaannn, horee!

Mari Mengurai Stres

Kemrungsung, hampa, nggak fokus, semrawut dan ngerasa ada yg nggak sreg tanpa tahu apa itu …? Hm, perasaan jelek kayak gitu kerapkali menggelayutiku … hingga kemarin, nemu artikel di kompas.com tentang ‘stres, kondisi atau dibuat sendiri?’ … alhamdulillah, sedikit membantu mengurai semrawut itu …

Coba catat daftar prioritasmu … juga agenda yg akan kita kerjakan esok hari.

Penting nih;

1. Ibadah

2. Sosialisasi, silaturahmi

3. Membaca (berita, artikel non fiksi, fiksi)

4. Menulis!!!

5.  Jaga kesehatan (makan cukup, tepat waktu, tidur nggak kebanyakan)

6. Merawat diri dan lingkungan … :P

7. M.E.N.A.B.U.N.G.

8. Cari hiburan seperti nonton film (nggak harus di bioskop), denger musik, nyanyi, jalan (ke alam)

(UPS! Maaf masih fokus ke diri sendiri, belum mikirin orang lain) …

Sama ingat, ingat untuk nggak berhenti bersyukur (seringkali masih mbanding2in … si ini begini tapi kok begitu) … dan ikhlas jalani semuanya, kerja, kerja, kerja!

insyaAllah …

Maag

Lama nggak muncul, eh barusan “dia” datang. Ya, maag ku kambuh. Jam makan yang kacau. Perut terasa begitu kaku, perih, melilit pas abis makan siang yg kesorean. Tak berkutik. Obat (boleh minta sama Indah–editor, yg minta juga ke mbak Maria–redaktur, thanks!) yang kukunyah, bikin pengen muntah. Buntutnya jadi kentut, bertahak (antop), muntah beneran dan buang air besar.

Tuh kan, baru nyadar nikmatnya sehat kalau sudah terserang.  Untungnya, sakitku nggak lama-lama, alhamdulillah berangsur mereda.

Pas “serangan” tadi, sempat ngobrol sama Mbak Laksmi–copywriter. Dia bilang, maag tuh karena asam lambung yg berlebih. Keluarnya cairan yg buanyak di lambung tak hanya disebabkan oleh telat makan. Tapi juga karena ada tekanan atau stress.

Jadi mencuat lagi kepusinganku. Bingung lanjut kursus atau tidak. Aku merasa nyaman dan senang kursus di LIA (walau ternyata kurang aman). Aku juga pengen banget lancar bahasa Inggris. Tapi kok mahal bgt ya. Tak itung2 kok hampir sama dg biaya kuliah.

Jadi gimana dong. Lanjut atau ditunda dulu. Jawaban paling telat tgl. 30 ini. (deadline installment 2 untuk CV-2) …

Ufff … bakal semakin defisit. Iya, tahu sih rejeki sudah diatur, ditentukan oleh Allah. Tinggal gmana minta n usahanya aja kan.

Terusss gmanaa …

Ada juga hal lain nih. Soal deadline juga. Pokoknya kelamaan terpendam, terendap (laraku) hehe …

Wah, senang sih melihat manisnya ciptaan Tuhan … (bukan pelangi-pelangi lho) … tapi kan … gak boleh keterusan. Mungkinkah ini hanya rasa yang singgah sebentar saja seperti yg sudah2? Lelah euy …