Lama nggak muncul, eh barusan “dia” datang. Ya, maag ku kambuh. Jam makan yang kacau. Perut terasa begitu kaku, perih, melilit pas abis makan siang yg kesorean. Tak berkutik. Obat (boleh minta sama Indah–editor, yg minta juga ke mbak Maria–redaktur, thanks!) yang kukunyah, bikin pengen muntah. Buntutnya jadi kentut, bertahak (antop), muntah beneran dan buang air besar.
Tuh kan, baru nyadar nikmatnya sehat kalau sudah terserang. Untungnya, sakitku nggak lama-lama, alhamdulillah berangsur mereda.
Pas “serangan” tadi, sempat ngobrol sama Mbak Laksmi–copywriter. Dia bilang, maag tuh karena asam lambung yg berlebih. Keluarnya cairan yg buanyak di lambung tak hanya disebabkan oleh telat makan. Tapi juga karena ada tekanan atau stress.
Jadi mencuat lagi kepusinganku. Bingung lanjut kursus atau tidak. Aku merasa nyaman dan senang kursus di LIA (walau ternyata kurang aman). Aku juga pengen banget lancar bahasa Inggris. Tapi kok mahal bgt ya. Tak itung2 kok hampir sama dg biaya kuliah.
Jadi gimana dong. Lanjut atau ditunda dulu. Jawaban paling telat tgl. 30 ini. (deadline installment 2 untuk CV-2) …
Ufff … bakal semakin defisit. Iya, tahu sih rejeki sudah diatur, ditentukan oleh Allah. Tinggal gmana minta n usahanya aja kan.
Terusss gmanaa …
Ada juga hal lain nih. Soal deadline juga. Pokoknya kelamaan terpendam, terendap (laraku) hehe …
Wah, senang sih melihat manisnya ciptaan Tuhan … (bukan pelangi-pelangi lho) … tapi kan … gak boleh keterusan. Mungkinkah ini hanya rasa yang singgah sebentar saja seperti yg sudah2? Lelah euy …