Bahagia

 

 

Di mana letak kebahagiaanmu? Begitu kalimat pertama pada surat elektronik dari Anne Ahira, kemarin. Mestinya, di sini dan sekarang ini. Tapi betulkah? Sering kali aku ngarang, aku bakal bahagia nanti kalau gajiku sudah cukup, atau kalau aku sudah bisa membantu orang tua dan kakak-kakakku sepenuhnya. Atau nanti kalau aku sudah menikah. Hohohooo …

 

Bahagia itu di hati. Bahagia itu bila bisa membahagiakan orang lain. Senyum tulus ke tetangga yang kita lewati, menanggapi obrolan Ibu Kost … atau membantu keponakan ngerjain PR, mungkin juga membantu teman yang memerlukan, mendengarkan keluh serta mencoba men-support … InsyaAllah, insyaAllah itu juga berujung kebahagiaan.

 

Mengenai tetangga … aku senang sekaligus bertanya-tanya tentang seorang nenek yang begitu ramahnya. Aku nggak tau siapa namanya … Rumahnya berjarak tiga rumah dari tempat kostku. Kami satu gang. Setiap kali aku lewat depan rumahnya, entah berangkat/pulang kantor, jalan untuk beli nasi di warteg … bila kebetulan ibu itu sedang di teras rumahnya, senyumnya pasti merekah lebar. Sangat ramah. Pernah aku jadi salting sewaktu dia meraih tanganku dan mengguncang-guncangnya. Menyentuh lenganku sambil tanya ”Sehat Neng? Baru mau berangkat? Bawa payung nggak?” Oh Tuhan … Aku bingung, mau salaman kok setiap hari sudah ketemu. Hm, mungkin aku mirip dengan salah seorang kerabatnya kali yaa … Semoga si ibu yang senantiasa mengenakan daster batik, dengan rambutnya mulai memutih serta gigi yang tanggal itu sehat-sehat dan dalam lindungan Allah, amin. Aku bahagia tinggal di Kebun Sirih J

 

Bahagia itu berbagi. Mengangsurkan secangkir kopi. Membelah sepotong roti. Atau sekadar memberikan recehan kepada pengamen dan peminta-minta.

 

Bahagia … Bahagia membuncah dalam kebersamaan. Makan bareng-bareng Ira dan Meri, teman kost, tentu jauh lebih lahap ketimbang sendirian. Mendengar celotehan, canda dan tawa Oliv dkk yang membahana … Begitu pula makan ramai-ramai di ”kelas” … ada Mbak Atiek, Ea, Mas Mamo, Mbak Farida dan duo bajindul (hehe) yg seru: Mas Syarif n Aris. Atau sekadar ngobrol dan nonton TV bareng di kamar Ira … Atau kala jalan-jalan (niatnya sih lari-lari) pagi … ke Monas bareng Novi n Aini, ke Taman Suropati seperti yang kulakukan Minggu (6/2/2011) lalu berempat aku, Ira, Yunita, Kiki. Bahagia, menghirup kesegaran sepanjang jalan di Menteng. Seolah-olah berada di Bogor saking rindangnya … Bahagia melihat air mancur dan burung-burung merpati di taman yang terawat itu. Bahagia ketika Ira menemukan selembar uang Rp50 ribu di air mancur bundaran Jalan Teuku Umar. Bahagia ketika memburu mas-mas tukang kopi, insiden foto pagar lantas lengking peluit petugas security yang bernama ”Yakub G. Djiung” hahaha …

 

Dan bahagia baru yang selama ini belum pernah terengkuh … ialah … ketika ia datang. Tiba-tiba, tak disangka. Terima kasih kau ulurkan niat baik. Thanks telah membiaskan rona seri di wajahku yang selama ini tersaput mendung. Memang, bahagia itu mesti dibayar mahal pula dengan kekhawatiran, harap-harap cemas dan berjuta pertanyaan yang belum terjawab. Aku tunggu, aku tunggu hingga kau siap melengkapi semua titik di belakang tanda tanya itu.

 

Apalagi? … aku bahagia! Aku bahagia masih terhubung dengan kalian semua, sahabat-sahabatku ^^ Aku bahagia dalam penjagaan-Mu ya Rabb J

 

Jakarta, 8 Feb 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s