Terbang dan Mengarungi Citarik
SERU! Satu kata ini cukup untuk mewakili cerita panjang perjalanan kami (tim copywriter, desain, admin n HRD – 37 orang) selama dua hari ke Caldera. Lembah yang tenang, sejuk di tepian Sungai Citarik, Kampung Lebak Wangi, Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Main2 heboh dipandu awak Caldera – Mas Katro’ dan Mas Ihsan, “terbang” menyeberangi Citarik, melingkari api unggun di malam hari, esoknya menyusuri hutan karet, naik turun bukit, lalu … wow, mendayung, arung jeram selama dua jam! Ckckck. Kata seorang kawan (sambil menyeruput air kelapa muda di garis finish) “Cukuplah bagiku jika surga serupa Caldera.” Hehehe ….
Yeah, hari pertama Sabtu (12/2/2011) setelah menempuh perjalanan Jakarta – Sukabumi nyaris enam jam (plus macet n plus2 lainnya) … kami berkesempatan menikmati syahdunya suasana di Caldera. Gemuruh arus air di bebatuan terdengar, menjadi simphoni yang serasi dengan hijaunya rerumputan, nyiur-nyiur, batu-batu, jembatan gantung, saung serta pondok-pondok bertiang glugu. Semua natural dan serba terawat.
Kendati melenceng jauh dari jam kedatangan … toh kami enjoy juga. Sore hari sekitar jam 15.30 alhamdulillah kami disambut ramah kru Caldera, disambung makan ’siang’ di saung serupa panggung menghadap ke aliran Citarik … Setelah melepas penat sejenak dan ganti baju dgn kaos seragam, kami ngumpul di lapangan rumput itu. Kukira bakal langsung flying fox … ternyata ice breaking n games untuk kekompakan tetap jalan. Melingkar, menantang, kocak. Tapi ya itu … menggabungkan antara laki2 dan perempuan … Selebihnya oke sih, membangun kekompakan …
Tentang flying fox. Selama ini cuma ndomblong ngelihatin orang. Akhirnya kesampaian juga. Auooo … Teman2 histeris teriak2. Kalau aku, perasaan teriak juga deh tp pelan (mungkin dalam hati kali) … hehe. ”Ih Mbak Esthi jaim …” kata Ea. ”Kamu kok diem aja sih? Orang2 segitu hebohnya …” ini Mbak Atiek. Lain kali, ajari aku ekspresif yaa Ea n Mbak Atiek … ^^
Gimana rasanya terbang? Asyik! Yang tadinya deg-degan begitu pengait dipasangkan, terus ”jlug” badan ”jatuh” dari panggung kayu itu … Lantas … enaknya meluncuuuurrrr … cepat sekali … menatap sungai di bawah sana … sungguh terlampau singkat, tahu2 sudah nyampai seberang … pengen lagi!
Flying fox sudah. Gamesnya nggak usah cerita, langsung ke rafting aja ya. Hari ke-2, Minggu (13/2/2011) pagi seusai pemanasan dikit, kami diangkut dengan 3 mobil bak ke tepi hutan karet. Lalu berjalan kaki kurang lebih 1,5 jam … naik turun, licin … Mbak Vika (atau Fika?) sempat tergelincir … menembus semak dan ilalang … berujung di perkampungan (nah, lupa nggak perhatiin apa namanya, padahal kami ngumpul di sebuah SD) … menyimak arahan Mas Ihsan apa yg boleh dan tak boleh dilakukan selama arung jeram (lucu … lucuuu …) … jalan lagi 200 meter ke garis start di (mungkin) hulu Citarik.
Sekitar 9 kilometer jarak tempuh kami, memakan waktu kira2 dua jam. Pas siang hari bolong! Karena debit air yang rendah (kata Mas Poank – pemanduku – 55 padahal bagusnya sekitar 70-80) perahu karet yang mestinya bisa ditumpangi 4 orang (plus 1 pemandu) hanya diisi 3 orang. So, kami yang tadinya sudah berencana 1 tim copywriter semua (Mas Syarif, Aris, Mbak Atiek n aku — biar enak ngambil fotonya di tukang potret) … berubah formasi. Mbak Atiek sama Aris n Syamsul (desain) … sementara aku sama Mas Syarif n Agus OB. Yo wis, lanjut … Perahuku berangkat pertama. Yes! Sok PD dong (padahal gak bisa renang, hihi) …
Kecilnya debit air, berarti juga lebih kecilnya risiko/tingkat bahaya. Air dan cuaca relatif bersahabat. Serunya kalau pas melewati jeram. Tuiiing … naik terus langsung turun. Kadang2 perahu berputar. Atau oleng. Dayung majuuu … dayung munduuur … ”Pindah kanan!” ”Kembali!!” Ini instruksi Mas Poank yang repot sekali kulakukan … Duduk sendiri di deret tengah, stay di pinggir kiri, trus ’bangku’nya kempes pula menyulitkanku untuk beralih … Beberapa kali aku jatuh ke dalam perahu deh. Tapi gak papa, sakit n pegal2nya baru kerasa sekarang euy … Kesukaran lainnya ialah ceteknya kali sehingga perahu kami kerap nyangkut di antara batu. Upsss … Pemandunya jadi bersusahpayah menarik-narik perahu kami …
Inilah rafting bermandi cahaya matahari pertamaku. Pengalaman pertama melihat yang namanya biawak. Juga, pengalaman pertama nyemplung kali setelah zaman kanak2 doeloe (niatnya murni mau pipis, wkwkwkwk) ternyata dalam bow … aduh panik juga, meski sudah pakai pelampung. Next, rencana belajar renang kudu direalisasikan!!!
Kendati menikmati arung jeram, goncangan di perahu + sengatan matahari toh membuatku pening juga. Apalagi perahu terbolak-bolik depan belakang … mutar-mutar kanan kiri … tahan est. Leganya begitu sampai di finish. Oh … Caldera yang ini tak kalah apiknya dari tempat kami menginap. Cuma 1 saung untuk minum kelapa sih … tapi ’view’nya kereeennn banget …
Pulangnya, diangkut lagi pakai los bak. Naik turun, berkelok. Wah, baru deh berasa mual mau muntah. Hoeeekk … cuma sekali kok, heheheh … maaf … ^^
Sesampainya di penginapan lagi … antre mandi … makan siang kesorean lagi … Lapar, lelah, makanan jadi terasa lebih nikmat. Habis itu, ”pelepasan” oleh Mas Katro’, Mas Ihsan n Mbak Nita … salam2an sama mbak2 yang melayani makan … foto2 lagi. Pulaaanggg … maceeeettt … nyampai2 di area kantor jam 22.29 … ngobrol sebentar, sampai kost-an. Ngantuk!
Lho … yang diceritain main2nya doang yak. Mana raker ”Multiplication and Improvement Year 2011”? Weeeekkksss … sudah ditulis kok di kertas!
Ohhh semoga akan ada lagi petualangan semacam ini … syukur2 lebih … ^__^
Buat yang nggak ikutan (Mas Mamoo, Mbak Farida, Mas Ponco, Mas Bay n Miftah) … ini oleh2nya …