Berlatar ruang tamu rumah zaman dulu … aku menerima pemberian Bapak, berupa sebutir telur busuk. Telur yang terbuka setengah, yang lantas menetas di dua telapak tanganku, menjelma seekor ayam kecil. Yang kupikirkan saat itu hanya: “Jangan sampai anak ayam ini mengira akulah induknya.”
Sesaat sebelum adegan itu, aku membuka-buka lemari mencari kardus … suasananya seolah-olah aku sedang bersiap untuk kembali ke Jakarta. Di dalam lemari, ada beberapa kardus lawas … berisi telur-telur busuk simpanan Simbok — panggilan ibu di keluargaku yang sangat sederhana. Kenapa Simbok menyimpannya? Beberapa pecah dan sangat tidak indah. Lantas, lima ekor anak ayam menetas!
Ah … itu mimpi Ahad, malam Senin (25/4/2011) … Di tidur lanjutan setelah shalat Subuh … aku memimpikan sesosok istimewa. Di belakang kursi kerjaku, dia hadir. Dia yang telah lama kubenamkan di makam masa lalu. Tanpa kata, cuma cengar-cengir. Tapi, masih dalam mimpi itu, teman2 kantor yg bercampur antara teman Sindo dan Satelit ramai berdehem-dehem dan suit-suit. Oh mimpi … ada-ada saja.
akhirnya nemu juga salam kangen
erik