Tersentuh Mwathirika, Pentas Papermoon dari Yogya

Lama sekali blog ini mati suri. Sebagai awal dari kebangkitan kembali (semoga saya konsisten menulis), blog Garis Perak akan memuat (semacam) laporan dari kegiatan seni dan budaya yang berlangsung di Jakarta pada awal September 2013.

Pertama, mengenai pIMG_6839erhelatan berkelas dunia nih; Wayang World Puppet Carnival (WWPC) 2013. Tidak secara lengkap dan rinci sih, namun secuil dari sekian banyak pertunjukan gratis yang apik tenan. Secuil tapi sangat memuaskan itu adalah Mwathirika*), pentas teater boneka Papermoon di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan pada Jumat (6/9/2013) malam.

Mewakili Indonesia, Papermoon yang digawangi Maria Tri Sulistyani (Ria) dan sang suami Iwan Effendi dari Yogyakarta ini membawakan lakon berjudul rada aneh itu. Mwathirika berkisah tentang keluarga korban salah tangkap/salah bantai yang pelakunya para tentara dengan latar waktu September 1965. Tokohnya, kakak beradik Moyo dan Tupu, ayahnya Baba, juga tetangga; Haki dan gadis cilik berkursi roda bernama Lacuna (bukan Laluca seperti yang saya tulis di keterangan foto yang saya unggah di Facebook).

Tampilan boneka yang nyaris seukuran bocah betulan, aksi pemainnya, setting panggung serta tata musik, pencahayaan juga imbuhan layar digital mebawa penonton larut dalam cerita berdurasi 55 menit tersebut. Penonton yang melebihi kapasitas, sebagian berdiri di dekat tangga masuk, bahkan beberapa duduk begitu saja di anak tangga semua tampak sangat menikmati. Di antara penonton-penonton lokal, beberapa kepala terlihat berambut blonde, banyak juga yang berdialog mandarin.

Kembali ke atas panggung, sang penulis naskah sekaligus sutradara Ria banyak menyuguhkan adegan dan properti-properti simbolis. Lihat saja bendera-benderah merah itu, balon merah, peluit-peluit merah yang menggantung di leher Moyo dan Tupu dan tak henti-hentinya mereka tiup. Tiupan peluit untuk saling memanggil, dan yang paling mengharukan adalah lengking pilu peluit Tupu kala kehilangan kakak dan ayahnya. Simbol yang lain lagi dan membuat penonton geregetan; segitiga merah yang dicoretkan seseorang di jendela rumah keluarga Moyo.

Kendati kisahnya menyedihkan, Ria berhasil membuat penonton tergelak-gelak lewat tingkah Tupu yang alami dan bocah banget. Bahkan, suara Ria yang berperan sebagai Tupu itu juga mirip anak kecil. Merajuk, tertawa, atau berceloteh dan menyanyi, lengkap dengan gerak tangan dan kakinya. Pokoknya bagus deh! Dan seperti yang saya sebut tadi, menurut saya, bagian paling memilukan saat Tupu duduk terpekur setelah sang kakak juga hilang demi mencari ayahnya yang diculik tentara. Tak ada dialog verbal, namun dengan sedemikian rupa Papermoon mampu membuat penonton paham. Dengan pelan, mendayu diseling lengkingan, Tupu meniup peluit merahnya (tentu, Ria sebagai pemeran juga meniup peluit sungguhan, tapi hitam bukan merah). Mendengar suara yang menggambarkan jerit hati temannya, Lacuna keluar dengan membawa kotak musiknya (kotak tersebut hadiah dari ayah Lacuna, dan ia dilarang meminjamkannya pada Tupu karena keluarga Tupu “beda”harus dihindari – lantaran tanda segitiga merah di jendela). Beberapa kali Lacuna yang tak sempurna mengulurkan kotak musiknya, namun Tupu selalu menolak (padahal dulu dia ingin sekali meminjamnya). Tupu tetap meniup peluitnya, lagi dan lagi.

Sebagai penonton biasa yang bukan eks tapol dan tak ada hubungannya dengan para korban, toh hati saya serasa dikoyak-koyak juga menyaksikannya. Bagaimana dengan penonton lain yang merupakan keluarga korban? Kalau tak salah dengar, di akhir pentas Ria sempat mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada teman-temannya yang telah mengajak bapak-ibu dari Kramat Lima **) (apa itu Kramat Lima, mungkinkah komunitas keluarga korban?)

Saya, orang awam yang mengaku-aku pencinta seni-budaya-sejarah, baru kali ini saya menonton langsung teater boneka. Tak sia-sia saya izin cabut dari kantor saat jam kerja belum usai, naik kopaja P20 bersama Mbak Alifien, jalan kaki ke Epicentrum Walk demi menyaksikan karnaval wayang/boneka yang tak sesuai bayangan — sepi dan hanya kebagian bagian akhir (Rusia) saja, menunggu lama dari sebelum magrib sampai pintu teater dibuka jam 8 malam, mau masuk antre dan berdesakan (nunggunya di Pasar Festival, makan sama Mbak Alifin, Mbak Wikan dan Mbak Hani dari Lontar, lalu tinggal saya berdua Mbak Wikan saja). Dan terutama, meminta izin suami dan memintanya menjemput jam 9 malam. Pentas yang sangat berkesan dan ingin nonton lagi, suatu saat nanti. Sukses Papermoon!

*** (InsyaAllah) bersambung ke cerita-cerita selanjutnya ya.

*) Setelah saya googling, ternyata Mwathirika itu bahasa Swahili yang berarti korban. **) Dari mbah google juga, saya menemukan bahwa Kramat Lima (Kramat 5) adalah nama sebuah jalan di Jakarta Pusat. Berikut saya kutip dari http://www.goodreads.com/book/show/2936150-neraka-rezim-suharto >> Dari semua tempat tersebut, tempat penyiksaan yang paling seram adalah Kremlin. Kremlin singkatan dari Kramat Lima, kantor Opsus di Jalan Kramat Lima, Jakarta Pusat. Tidak sedikit aktivis yang pernah mencicipi kekejaman di tempat tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s