Rh-, Si Darah Langka

Gambar

Rhesus merupakan nama sejenis kera. Bertahun silam (sebuah sumber menyebut kurun 1940-1941), para peneliti menemukan golongan darah selain A, B, AB dan O yakni Rhesus positif (Rh+) dan Rhesus negatif (Rh-). Pada darah Rh+, membran sel darah merahnya mengandung protein (dan karbohidrat) seperti halnya rhesus. Apakah benar orang dengan Rh+ = keturunan kera? Hehe …

Manusia berhesus negatif (Rh-) terbilang langka di dunia. Dan saya adalah salah satunya. Menelusuri mesin pencari di internet, ada artikel yang menyebut kemungkinan manusia Rh- adalah titisan dewa, bahkan aliens. Makanya, konon si Rh- ini lebih peka dan memiliki intuisi tajam. Wow! Percaya? Nggak lah, kita kan keturunan Adam dan Hawa.

Lantas, apa maksud saya menulis sok-sok ilmiah tentang Rh- segala? Hm, kendati sudah lama ditemukan, toh masih banyak orang yang belum tahu tentang Rh+ dan Rh- berikut dampaknya. Saya sendiri, tahu bahwa saya bergolongan Rh- sewaktu donor darah perdana di acara Tupperware di Plaza Semanggi, Jakarta pada bulan Mei 2013. Jujur, saya juga nggak ‘ngeh’ apa sih maksudnya. Jadi ya cuek-cuek saja. Jadi kaget dan penasaran sewaktu Bu Ninit dari PMI dan Komunitas Rh- yang menelepon mengingatkan untuk donor darah. Kalau tidak salah, ini sudah ketiga kalinya beliau menghubungi. Karena sedang hamil, saya pun menyampaikannya. Dari situ, Bu Ninit wanti-wanti kalau saya ke dokter, bilang ya sama dokternya bahwa saya Rhesus negatif. Memang kenapa, tanya saya. Tanpa penjelasan rinci, Bu Ninit bilang kehamilan Rh- rawan keguguran.

Penasaran, saya pun tergugah untuk mencari tahu apa dan bagaimana Rh- itu. Saya juga gabung di fanpage (Facebook) Blood Group Rhesus Negatif Indonesia serta www.rhesusnegatif.com

Jadi, orang Rh- mesti lebih waspada karena kelangkaan darahnya. Sewaktu-waktu bila ia memerlukan transfusi darah, belum tentu ada stok. Dan untuk ibu hamil yang darahnya Rh-, bila ternyata janinnya Rh+ maka tubuh si ibu akan membentuk antibodi yang bisa membahayakan janin. Antibodi ibu tersebut bakal menyerang Rh+ janin sebagai benda asing. Kehamilan pertama tak terlampau berbahaya, yang sangat rawan adalah kehamilan kedua dan seterusnya lantaran antibodi ibu sudah terbentuk lebih banyak. Namun, semua itu bisa diatasi bila Rh- ibu diketahui sedari awal. Jika ternyata (melalui tes darah) janin berhesus positif (artinya berlawanan), maka pada minggu ke-27 kehamilan, ibu akan disuntik antigen (atau apa nama persisnya saya lupa).

Nah, sampai sekarang saya belum periksa lagi. Maksud hati mencari dokter/klinik yang baik dan terjangkau. Alhamdulillah, melalui google juga saya temukan nama dr. Bob Ichsan Masri, SpOG yang punya Harmoni Obginozone Health Center di Harmoni Plaza, Jakarta. Dari beberapa blog dan forum, komentarnya sangat positif. Dan menariknya, dr. Bob itu merupakan ahli obgin yang idealis, rinci, pro kelahiran normal/alami, pro rakyat kecil, manusiawi dan tarifnya terjangkau (bahkan konon boleh seikhlasnya).

Klinik dr. Bob tampak depan.

Klinik dr. Bob tampak depan.

Sabtu (14/9/2013) lalu saya dan suami berkesempatan menyambangi klinik dr. Bob. Memang benar seperti yang ditulis orang-orang, tampilan kliniknya rada kusam. Tapi lumayan lah. Ramai banget pula. Saya yang pemalas dan penunda-nunda ini kesiangan sampai klinik berlantai 3 itu. Jam 9 lewat dikit, pendaftaran sudah ditutup karena kapasitas (30 orang) sudah penuh. Kata seorang pria di dekat meja pendaftaran (meski berkaos oblong, saya kok yakin dia petugas di sana karena dia peduli dan responsif pada tamu) bilang, Minggu klinik tutup dan pada Senin-Selasa ini dokter tidak praktik. Ya sudah, berarti Rabu besok saya akan kembali lagi ke klinik merakyat itu. Bukan untuk USG 4D yang disebut-sebut kelewat murah di sana, melainkan untuk berjumpa dan berkonsultasi dengan dr. Bob.

Selama ini, saya tak suka dan cenderung menghindari dokter berkelamin laki-laki. Risih saja kan, apalagi dokter kandungan. Namun  kali ini, tertarik dengan profil dan kisah dr. Bob, saya jadi penasaran dan ingin segera bertemu dengan beliau. Jika memungkinkan, tak sekadar konsultasi tapi juga wawancara. Kira-kira, beliau sudah pernah diwawancara untuk ditulis profil/biografinya belum ya? Hmm, kalau sudah jadi ketemu dr. Bob, saya akan beberkan di Garis Perak ini, insyaAllah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s