Bukan Sponge Bob

Kotak kuning tapi bukan tahu. Ada bolong-bolongnya, punya dua mata yang membola, bulu matanya masing-masing ada tiga. Gigi atasnya khas banget, dua dan berjarak. Dia kocak, perasa, tukang masak crady patty, tinggal di rumah nanas dan saking pintarnya sering banget jadi konyol. Ya, siapa lagi kalau bukan Sponge Bob.

Image

Bob yang mau saya ceritakan di sini bukan Sponge Bob namun dr. Bob. Seperti janji saya pada unggahan artikel sebelumnya, saya mau sampaikan perihal dr. Bob Ichsan Masri, SpOG dan kliniknya Harmoni Ogninozone Health Center. Sudah nggak segar lagi sih, soalnya sudah cukup lama berlalu, saya berkunjung ke sana pada Rabu, 18 September 2013 (angot-angotan ngeblognya!)

Pagi itu, saya tiba di klinik yang ada di ruko berlantai tiga di Harmoni Plaza, Jakarta. Masih pagi, tapi sudah banyak orang. Nggak hanya perempuan/ibu-ibu berperut buncit, tapi juga bapak-bapak dan mas-mas (belakangan saya tahu mereka datang untuk mendaftarkan istri/saudarinya). Jam 7.30 atau berapa kok saya lupa, saya mencatatkan nama di selembar kertas di meja pendaftaran yang belum ada petugasnya. Dan dapat giliran nomor 9. Mau tahu yang nomor satu datang jam berapa? Jam 6.30 hehehe … Padahal dokternya baru datang jam 10 atau 11 lho.

Yang bikin rada gregetan adalah, proses pendataan petugas pendaftaran yang lelet banget. Haduh, sekitar 2 jam tuh cuma buat manggilin nama-nama pasien, mencari data pasien lama dan memberi formulir untuk pasien baru. Nggak sistematis, nggak efisien gitu. Rupanya, tuh bapak-bapak yang jaga bukan petugas aslinya hanya pengganti saja. Jadi, dia kumpulin dulu semua berkas, sampai 30 nama, untuk kemudian orang/pasiennya diminta ke lantai dua buat periksa tensi darah dan nimbang badan. Saya nunggu lama, duduk sih … Ya siang baru berkesempatan naik ke lantai 2 itu. Masih nunggu lagi, karena susternya yang cantik langsing itu malah duduk lagi ngampar, ngobrol sama teman-temannya lantaran pasiennya belum ngumpul semua. Hemmm … Mau layanan murah meriah dan demi ketemu dr. Bob harus lebih sabar ya (dan cenderung masa bodoh).

Akhirnya giliran tensi dan nimbang pun tibalah. Suster yang tadi lebih memilih ngobrol itu cukup ramah sih. Darahku cenderung rendah, dan BB masih saja 54 belum naik-naik. Karena giliran periksa masih jauh dan dokternya pun belum datang, saya pun tak mau menunggu di klinik, tapi ke kantor saja. Pas turun dan mau keluar parkiran depan ruko, rupanya dr. Bob datang dengan mobilnya yang serupa MPV (saya nggak ngerti mobil). Dia nyetir sendiri. Karena penasaran sama sosok dr. Bob, saya nunggu dia keluar dari kendaraannya. Sayang, doi sibuk menata/menurunkan kardus (sepertinya oleh-oleh khas Medan) dan membelakangi saya, jadi masih belum lihat wajahnya yang menurut info di internet mirip aktor India. Ya sudahlah, nanti juga ketemu.

Siangnya, sesudah sholat Dzuhur dan makan siang, saya telepon klinik menanyakan sekarang giliran nomor berapa yang diperiksa. Masih nomor enam, jadi santai mengingat per pasien diperiksa/konsul sekitar 30 menit. Rupanya, mungkin karena ada nomor yang nggak ada orangnya, giliran saya maju jadi nomor 8 dan baru tahu setelah tiba di lantai 2 klinik. Dan terlewatlah saya, jadi mesti nunggu dua pasien lagi. Oke deh.

Jam 13.45 kalau nggak salah, masuklah saya ke ruang praktik dr. Bob. Suster mempersilakan saya berbaring di ranjang periksa, sementara suami saya duduk berhadapan dengan sang dokter yang sedang asyik dengan HP’nya (heemmm). Tuh kan USG lagi, padahal kepengennya konsultasi saja. Ya sudahlah. Sambil menggerak-gerakkan alat pemindai, dr. Bob memberi pertanyaan tentang puasa dan pakaian seragam. “Menurut Ibu, orang hamil boleh puasa nggak?” “Boleh,” jawab saya karena setahu saya begitu. Suami juga ditanya, “Boleh nggak ke kolam renang pakai celana panjang?” Saya juga ditanya lagi; “Kalau ada aturan ke suatu tempat harus pakai seragam, Ibu pakai seragam atau baju bebas?” Saya jawab: “Kalau aturannya mesti seragam, ya seragam.” Yaelah, ke mana sih arah pembicaraan dokter Bob? Pikiran saya sudah rada kalut mau menanyakan hal-hal terkait kehamilan, sambil mata menatap layar yang berisi gambar janin di rahim.

Yo wis, saya ikuti saja skenario dokter ini. Rupanya, dia mau menyampaikan “Kalau aturan Allah saja dilanggar, kenapa aturan manusia kok diikuti?” Ooo … Cuma, pas saya tanya balik dr. Bob hapal nggak surat/ayat Al Qur’an tentang tidak bolehnya ibu hamil berpuasa? Dia mengaku gak hapal. Selain soal puasa, banyak hal dia sampaikan. Heran, kurasa dr. Bob terobsesi jadi pendakwah deh, hehehe … Tapi seperti pengakuannya, bekal ilmunya masih belum cukup. Setelah panjang lebar dan hampir jengah (nyaris 45 menit dan belum sampai ke poin inti), saya ajukan apa yang menggelayut di benak yakni soal cacar air yang pernah saya alami pada bulan ke dua kehamilan, juga minta saran terkait rhesus negatif darah saya. Lalu apa jawabnya? dr. Bob meresepkan antivirus (tablet gede2 banget warna kuning dan jumlahnya 45 butir!) Dan soal rhesus negatif, katanya nggak apa, siapkan saja tiga kantong darah B- dan nanti saja setelah melahirkan baru disuntik RhoGam. Ya sutralah.

Oya, ada dua hal yang saya tak setuju dengan apa yang disampaikan dr. Bob.Pertama, tentang perkiraan usia janin. Saat itu, 18 September, disebut janin kami berumur 14 minggu 5 hari (lha wong nikahnya aja belum 3 bulan). Ya seperti dokter-dokter lainnya, dr. Bob ngitung berdasar hari pertama haid terakhir (saya jadi berpikir ulang, jangan-jangan saya yang salah soal HPHT itu). Yang ke dua, adalah pernyataannya untuk “membikin mules” saya pada pertengahan bulan Februari (atau Maret ya?) sebagai upaya untuk mempersiapkan kelahiran. (Ia umpamakan dengan perlunya orang bekerja untuk menjemput rezeki). Lha saya kok kuwatir, kalo janin masih terlampau muda gimana dong?

Di akhir pertemuan, saya ajukan satu pertanyaan lagi sambil mata terus mencuri pandang ke foto keluarga di dinding belakang kursi dr. Bob. (Tampak dr. Bob dengan istrinya berjilbab, putih dan 2 putrinya yang imut putih sipit sementara bokapnya hitam dengan mata super belo). Saya lempar dr. Bob tentang kepeduliannya pada rakyat dengan mematok harga murah, apa sih latar belakangnya? Adakah pengalaman khusus di masa silam? Jawabnya: dia pernah sakit hati gara-gara mengantar istrinya USG tahun 2002, foto jelek kok harganya 800 ribu. Sampai-sampai ia mengeluarkan KTP demi menunjukkan bahwa dia dokter juga dan minta keringanan harga. Katanya, kalau foto di yonas segitu sudah dapat bingkai bagus, hihiii …

Mengenai tarif USG dan konsul, memang klinik dr. Bob terbilang sangat terjangkau. Konsul+ print USG 2 D + 4D Rp150.000. Admin Rp10.000. Tapi saya kena Rp520.000, mahal juga ya, karena obatnya mencapai Rp360.000 sendiri. Apa saja sih obatnya? Selain antivirus kuning yang 45 butir itu, ada juga kalsium jumbo banget 30 biji, asam folat (juga tanpa kemasan) 30 tablet kecil, sama kapsul vitamin penambah darah yang warnanya kehitaman, 30 biji. Yang gampang ditelan cuma asam folatnya. Antivirusnya sudah nggak saya minum lagi. Kalsium kadang-kadang saja, gede banget dan trauma karena pernah nyangkut lalu muntah semuntah-muntahnya. Nah, yang kapsul penambah darah itu, nggak tau gimana, saya rasa dialah penyebab feses saya berwarna hitam dan banyak banget. Ini juga yang saya dengar dari perbincangan dua bumil sebelah saya pas antre di klinik itu. Eh, kejadian juga sama saya. Entahlah. Saya tetap minum karena masih sering pusing keliyengan, mungkin karena kurang darah.

Satu hal lagi, bayar klinik Rp520.000 memang mahal, tapi menurut saya masih lebih murah ketimbang ke dokter SpOG di rumah sakit. Lha kemarin dengar dari si Batak Ulfah, dia pernah ke SpOG bayar 300 ribu saja kapok nggak balik lagi, mending ke bidan yang hanya 30-40 ribu katanya. Hem, suami saya yang dengar cuma mesam-mesem saja mau nyindir pasti. Saya nggak maksud gaya-gayaan mau yang mahal (ah toh diganti juga sama kantor, alhamdulillah), tapi karena mau bayi kami terpantau, insyaAllah sehat ya, Nak. Ya mungkin kalau sudah empat bulan ke atas, saya ke bidan aja kali yaa? Nggak tau gimana nanti. Yang pasti, berusaha sehat, berpikir positif dan menransfer cinta ke janin dengan mencoba ngobrol, ngaji dan afirmasi positif … Bapaknya juga ya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s